Sepercik Tentang Fitnah
Mungkin kita sadari atau tidak bahwa fitnah sudah menjadi hal umum bahkan sudah di anggap biasa.
Saya menulis ini hanya ingin sedikit berbagi ilmu walau hanya sedikit,semoga bermanfaat dan bisa mengambil hikmahnya,saya tidak bermaksud menggurui karena saya pun masih belajar.
Telahlah kita ketahui bahwa di akhir zaman ada orang-orang yang menjual agamanya demi keuntungan duniawi saja, dihadapan manusia mereka berkata manis serta menggunakan baju agar terkesan sederhana padahal hati mereka lebih cenderung kepada keuntungan dunia, sebagaimana sabda Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam yang artinya: “Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Allah berfirman, “Apakah dengan-Ku (kasih dan kesempatan yang Kuberikan) kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi Diriku, Aku bersumpah. Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya.” (HR: Tirmidzi)
Berita bohong, isu-isu, fitnah-fitnah sudah tersebar bagaikan alur air dengan deras, tanpa terbendung lagi, apa yang kita lihat di TV, Koran dan berita versi online sebagian besar isinya debat, ehmmm semoga saja cepat berakhir..
Dalam Tanzil-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَوْلاَ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ
“Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong tersebut, orang-orang mukmin dan mukminah tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri dan mengapa mereka tidak berkata, ‘Ini adalah sebuah berita bohong yang nyata’.” (An-Nur: 12)
Yuk, berbaik sangka kepada diri sendiri dan setiap berita yang kita terima harus di kroscek kebenarannya. Dan bila ternyata berita itu merupakan kebohongan maka katakanlah bahwa itu adalah berita bohong.
Nampaknya adu domba dengan tuduh si A begini dan si B begitu sudah sering banyak kita dengar, padahal jika kita ketahui bahwa setiap ucapan tidak luput dari Malaikat pengawas, sebagaimana firman-Nya :
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya : Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaaf : 18)
Dan juga Allah Subhana Wa’Ta’ala berfirman :
وَلا تُطِعْ كُلَّ حَلافٍ مَهِينٍ,هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
Artinya: Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, (Qs Al Qalam : 10-11)
Biasanya setiap pendukung antar golongan akan membela apa yang ada pada golongannya, dan hal itu adalah sesuatu yang wajar karena setiap golongan akan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya, seperti Firman-Nya: “Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (QS Al Mu’minun : 53). Meskipun terkadang kita sadar bahwa golongannya yang dibelanya adalah pihak yang salah, karena begitulah jika kepentingan duniawiyyah yang didahulukan.
Semoga saja kita selalu dalam lindungan-Nya dari keburukan baik yang belum terucap dalam lintasan-lintasan di hati maupun yang sudah terucap, karena
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS Al ‘Araf : 201)
Dan diriwayatkan dari Dari Abu Hurairah, ia berkata :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ يَتَكَلَّمُوا أَوْ يَعْمَلُوا بِهِ
Rasulullah sholallahu ‘alaaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya Allah memaafkan bagi umatku apa yang terlintas di jiwa mereka selama mereka tidak membicarakan atau melakukannya.” (HR. Muslim no. 181)
Wallahu a’lam bishawab.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar